Tradisi Malam Selikuran, Warisan Budaya Jawa untuk Sambut Lailatulqadar

Kudus – Malam Selikuran menjadi salah satu tradisi keagamaan masyarakat Jawa yang masih lestari hingga kini. Digelar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, khususnya malam ke-21, tradisi ini dipercaya sebagai momen untuk menyambut datangnya Lailatulqadar, malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan.

Makna Malam Selikur

Secara bahasa, "selikur" berarti dua puluh satu dalam Bahasa Jawa. Karena itu, Malam Selikuran merujuk pada malam ke-21 Ramadan yang menandai dimulainya malam-malam ganjil yang memiliki peluang besar sebagai waktu turunnya Lailatulqadar.

Dikutip dari NU Online, Malam Selikuran dipahami sebagai tradisi yang mendorong umat Muslim untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, serta memperkuat hubungan sosial di masyarakat. Tradisi ini tumbuh dalam kultur Jawa sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan atas datangnya malam-malam penuh keberkahan.

NU Online juga mencatat bahwa tradisi Selikuran telah dipraktikkan turun-temurun sebagai media dakwah dan syiar yang selaras dengan nilai budaya masyarakat setempat.

Prosesi Tradisi Selikuran

Tradisi Selikuran umumnya berlangsung di mushola atau masjid lingkungan. Warga berkumpul pada malam hari untuk menggelar kenduri sebagai puncak acara. Setiap keluarga membawa makanan sederhana yang dikumpulkan dan dinikmati bersama.

Acara biasanya dibuka dengan pembacaan doa, tahlil, atau dzikir yang dipimpin oleh ustaz atau tokoh masyarakat setempat. Hidangan yang telah terkumpul kemudian disajikan sebagai takjil untuk berbuka puasa bersama, dan sebagian lainnya dibagikan kepada warga sebagai bentuk sedekah.

Selain bernilai spiritual, Selikuran menjadi sarana mempererat kebersamaan, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan tradisi saling berbagi di tengah masyarakat.

Akar Historis dan Pelestarian

Sejumlah literatur keislaman Jawa menyebut bahwa tradisi Selikuran pada masa lalu diperkaya oleh ajaran para wali, termasuk Wali Songo, sebagai metode dakwah yang menekankan harmoni antara Islam dan budaya lokal.

Hingga kini, Selikuran tetap dipertahankan karena memuat nilai moral, sosial, dan spiritual yang relevan. Tradisi ini tidak hanya memperkuat pengalaman religius di sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga menjaga warisan budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Jawa.

Komentar

Send Message

Kirim