UIN Sunan Kudus: Mahasiswa Heboh di Story, Hampa di Studi.?

Kabar bahagia datang dari kota Kudus: IAIN resmi naik kelas menjadi UIN Sunan Kudus. Rasa syukur pun menggema dari berbagai penjuru — mulai dari dosen, birokrat kampus, hingga mahasiswa yang ramai-ramai memajang ucapan selamat di media sosial. Bangga, tentu. Karena siapa yang tidak senang melihat almamaternya berkembang?

Namun, di balik sorak-sorai itu, mari kita buka satu ruang refleksi:
Sudahkah kita, para mahasiswanya, ikut naik kelas bersama kampus ini? Atau jangan-jangan, hanya namanya yang naik, sementara mentalitas kita masih di kelas bawah?

Tak sedikit mahasiswa hari ini begitu bersemangat menyuarakan kebanggaan atas perubahan status institusi. Kata "UIN" kini mereka ucapkan dengan penuh percaya diri, seolah satu huruf itu mampu secara otomatis meningkatkan martabat akademik mereka. Padahal, jika dilihat dari geliat intelektual di lapangan, sangat sulit menemukan peningkatan yang benar-benar substansial. Diskusi masih sepi, seminar hanya ramai saat ada konsumsi, dan jurnal ilmiah lokal pun nyaris tidak tersentuh kecuali menjelang deadline tugas akhir.

Lucunya, banyak yang mengira perubahan nama kampus akan secara magis meng-upgrade kualitas mereka. Sebuah logika instan yang patut dicatat: mengira almamater yang naik kasta akan otomatis menaikkan harga diri dan nilai jual di pasar kerja. Padahal, ijazah hanyalah kertas. Yang menentukan nilainya adalah kualitas diri, bukan ornamen logo di pojok atas.

Mari kita sedikit lebih sarkas:
Apalah arti UIN jika mahasiswanya lebih aktif membahas drama selebgram dibanding dinamika pemikiran keislaman kontemporer?
Apa bedanya IAIN dan UIN jika semangat literasi masih sebatas “scrolling caption” dan argumen kritis hanya muncul saat debat di kolom komentar TikTok?

Pergantian nama kampus seharusnya menjadi momentum refleksi — bukan sekadar seremoni. Tapi hari ini, banyak yang lebih sibuk membanggakan daripada merenungi esensi perubahan itu sendiri. Kita seolah bangga berada di kereta cepat, tapi lupa mengecek apakah kita sudah siap menjadi penumpang yang layak.

Ini bukan hanya soal administrasi atau branding institusi. Ini soal identitas. Soal makna. Soal siapa kita dan mau ke mana kita melangkah.

Sayangnya, terlalu banyak yang terjebak dalam ilusi pencapaian semu. Kita lupa bahwa nama besar tidak membentuk kualitas mahasiswa — justru mahasiswa berkualitaslah yang akan meneguhkan nama besar itu. Tanpa itu, UIN Sunan Kudus hanya akan menjadi simbol kosong: papan nama megah yang dibanggakan, tapi tidak dipertanggungjawabkan.

Transformasi sejati tidak hanya terjadi di nama akun media sosial, tetapi di ruang kelas, di meja riset, di forum diskusi, dan yang terpenting: di dalam kesadaran diri mahasiswa.
Jika mentalitas kita masih malas, pasif, dan reaktif, maka huruf “U” itu tak lebih dari hiasan administratif. Ia tidak akan membuat kita lebih intelek, lebih tajam berpikir, atau lebih layak didengar.

Jadi, sebelum kita sibuk menyebut diri sebagai mahasiswa UIN dengan nada penuh kebanggaan, ada baiknya kita bercermin:
Apakah kita sedang menjadi bagian dari kebangkitan kampus, atau justru menjadi beban dari status barunya?

Karena sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang merayakan perubahan, tapi siapa yang benar-benar menghidupkannya dengan kualitas dan karya.











Komentar

Send Message

Kirim